Tidak hanya sekedar ucapan "selamat hari ibu" kepadamu
22 Desember 2015
Tepat pukul 00.00, semalam aku memelukmu sambil menyodorkan hadiah untukmu aku bisikkan kata ditelingamu "selamat hari ibu,adek punya kado buat ibu". Aku suka melihat ekspresi yang selalu kau tunjukkan ketika kamu menerima kejutan kecil dariku, mukamu tersenyum tapi tersipu malu sambil berkata "Makasih yah dek" dan mendekapku erat..
Meskipun hanya kata itu yang aku dengar, tapi aku tau ketika kamu mendekapku banyak hal yang kamu katakan yang tak terdengar langsung di telingaku.
Mungkin dibalik terimakasihmu kamu ingin menyelipkan cerita keluh kesahmu yang hampir tidak pernah kamu bagi kepada siapapun...
Ibu, seandainya aku mampu mengalahkan egoku, sungguh aku ingin menjadi sahabat terbaikmu.
Aku ingin memaksamu bercerita sampai aku mampu melihatmu menangis lega karena bebanmu telah kamu bagi denganku.
Aku tau, menjadi wanita sepertimu tidak mudah. Amat sangat susah :)
Terlintas banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu selalu
Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika kamu berusia 10 tahun,17 tahun,bahkan ketika kamu seumurku saat ini, cita-cita apa yang sebenarnya kamu gantungkan? Dokterkah, sama seperti aku waktu kecil? Bisa jadi kau ingin menjadi artis seperti yang sering kamu lihat di layar kaca ? Atau Ibu punya cita-cita yang lain, seperti chef atau designer?
Aku tau, dalam benakmu kau pasti punya cita-cita itu. Tapi, kamu lebih meninggalkan impianmu itu
Maaf ya Bu, gara-gara aku, Ibu harus berhenti mengejar impian masa kecil itu . Karena keberadaanku, Ibu harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 100 kali lebih keras dari seharusnya.
Ya,
Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Tidak ada hari libur untukmu meskipun kamu mendapatkan jatah libur dari kantor.Saat libur kantor pun, kamu harusnya duduk santai menikmati liburan dan memanjakan diri, kamu masih tetap bekerja dirumah untuk mengerjakan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang.
Rasanya aku tak tega melihatmu hampir setiap hari melakukan rutinitas Pagi-pagi sekali, Ibu harus bangun untuk memasak sarapan untuk kita. Selanjutnya, Ibu harus bersiap untuk pergi kekantor dan melakukan aktifitas rutin disana, setelah pulang dari kantor bahkan kamu tidak bisa duduk diam mengistirahatkan diri. Kau malah sibuk merapikan sudut rumah yang berantakan akibat ulah anak-anakmu. Kau hanya memiliki waktu istirahat malam pukul 23.00 tidak jarang kau harus bangun pukul 02.00 untuk melakuakan ibadah malam dan makan sahur. Kau sengaja tidak membangunkan siapapun untuk menemanimu karena tak tega, untuk itu aku sering terjaga di malam hari untuk melihatmu. Aku tidak menemanimu melakukan aktifitas rohani itu, karena aku tau kau pasti akan marah ketika melihatku terbangun dan merasa sedih karena merasa telah mengganggu tidurku. Untuk itu, aku hanya mampu menguntit, dan tak jarang aku mendengar curhatanmu kepada allah keluh kesahmu, lelahmu kau bagi semuanya kepada penciptamu.
Kadang jika aku memiliki banyak waktu luang dirumah, aku berusaha membantumu tetapi jawabanmu selalu sama "taruh saja, biar ibu yang mengerjakan kamu gak bisa melakaukannya" alih-alih kau tampak merendahkan kemampuanku tapi pada dasarnya aku tau, kamu hanya ingin menyuruhku istirahat.
Aku ingin menatapmu dan berkata
Ibu adalah sebaik-baiknya wanita yang pernah aku kenal.
Tapi aku masih menjadi seburuk-buruknya anak yang bandel
Aku jahat , aku anak pembohong. Ibu masih mau menyayangi anak pembohong sepertiku?
Di saat aku jauh dari rumah, banyak hal yang aku lakukan tanpa sepengetahuan Ibu. Ada beberapa hal yang kutahu tak boleh aku langgar, namun tetap aku lakukan.Harus kuakui, ketika melakukannya, aku terhibur.
Bahkan ketika kamu menelponku bertanya sudah makan saat aku berada jauh darimu aku menjawab "Aku sudah makan kok" padahal waktu itu aku sedang serius menyelesaikan tugasku dan aku lupa tidak sempat makan sama sekali.
Bahkan ketika aku merasakan sakit dan kamu terlihat sangat mengkhawatirkan kondisiku sehingga kau mulai cerewet melarangku beraktifitas ini itu dengan tega aku berbohong kepadamu "aku sudah baik-baik saja"
Tapi, egoku melawan aku tak kuasa mengatak itu dihadapanmu. Aku tak mau membuatmu menangis karena aku untuk kesekian kalinya.
Ketika kamu terlelap tidur, aku sering menatap dan menciummu dan aku lihat wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Aku pun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan.
(Bu, tenang! Aku sudah makan!)
Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja kamu yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Allah yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.
Terima kasih sudah memutuskan untuk mempertahankanku 9 bulan berada di rahimmu.
Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia.
Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.
Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut,yang belum mampu membuatmu berhenti bekerja
Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu.
Secerewet apa pun dirimu, Ibu tetap wanita nomor satu bagiku.
Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Ibu pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahimmu. Allah yang mempertemukan kita.
Aku bersyukur bisa Allah memberikan takdir untuk aku bertemu dengan seorang wanita bernama ibu Yayuk Widjaya.
Seorang wanita tangguh yang rela melepaskan semua impiannya demi mendidikku.
Terimakasih untuk semua hal yang telah ibu beri kepadaku selama 21 tahun ini...
Aku mencintaimu
Tolong, temani aku selalu untuk mencapai semuanya..
Tepat pukul 00.00, semalam aku memelukmu sambil menyodorkan hadiah untukmu aku bisikkan kata ditelingamu "selamat hari ibu,adek punya kado buat ibu". Aku suka melihat ekspresi yang selalu kau tunjukkan ketika kamu menerima kejutan kecil dariku, mukamu tersenyum tapi tersipu malu sambil berkata "Makasih yah dek" dan mendekapku erat..
Meskipun hanya kata itu yang aku dengar, tapi aku tau ketika kamu mendekapku banyak hal yang kamu katakan yang tak terdengar langsung di telingaku.
Mungkin dibalik terimakasihmu kamu ingin menyelipkan cerita keluh kesahmu yang hampir tidak pernah kamu bagi kepada siapapun...
Ibu, seandainya aku mampu mengalahkan egoku, sungguh aku ingin menjadi sahabat terbaikmu.
Aku ingin memaksamu bercerita sampai aku mampu melihatmu menangis lega karena bebanmu telah kamu bagi denganku.
Aku tau, menjadi wanita sepertimu tidak mudah. Amat sangat susah :)
Terlintas banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu selalu
Bolehkah aku bertanya tentang impianmu saat muda dulu? Ketika kamu berusia 10 tahun,17 tahun,bahkan ketika kamu seumurku saat ini, cita-cita apa yang sebenarnya kamu gantungkan? Dokterkah, sama seperti aku waktu kecil? Bisa jadi kau ingin menjadi artis seperti yang sering kamu lihat di layar kaca ? Atau Ibu punya cita-cita yang lain, seperti chef atau designer?
Aku tau, dalam benakmu kau pasti punya cita-cita itu. Tapi, kamu lebih meninggalkan impianmu itu
Maaf ya Bu, gara-gara aku, Ibu harus berhenti mengejar impian masa kecil itu . Karena keberadaanku, Ibu harus rela mengambil apapun kesempatan berkarya yang ada, dan bekerja 100 kali lebih keras dari seharusnya.
Ya,
Aku melihatmu sebagai seorang pekerja keras. Tidak ada hari libur untukmu meskipun kamu mendapatkan jatah libur dari kantor.Saat libur kantor pun, kamu harusnya duduk santai menikmati liburan dan memanjakan diri, kamu masih tetap bekerja dirumah untuk mengerjakan tugas-tugas rumahan sebenarnya menyedot banyak tenaga dan waktu luang.
Rasanya aku tak tega melihatmu hampir setiap hari melakukan rutinitas Pagi-pagi sekali, Ibu harus bangun untuk memasak sarapan untuk kita. Selanjutnya, Ibu harus bersiap untuk pergi kekantor dan melakukan aktifitas rutin disana, setelah pulang dari kantor bahkan kamu tidak bisa duduk diam mengistirahatkan diri. Kau malah sibuk merapikan sudut rumah yang berantakan akibat ulah anak-anakmu. Kau hanya memiliki waktu istirahat malam pukul 23.00 tidak jarang kau harus bangun pukul 02.00 untuk melakuakan ibadah malam dan makan sahur. Kau sengaja tidak membangunkan siapapun untuk menemanimu karena tak tega, untuk itu aku sering terjaga di malam hari untuk melihatmu. Aku tidak menemanimu melakukan aktifitas rohani itu, karena aku tau kau pasti akan marah ketika melihatku terbangun dan merasa sedih karena merasa telah mengganggu tidurku. Untuk itu, aku hanya mampu menguntit, dan tak jarang aku mendengar curhatanmu kepada allah keluh kesahmu, lelahmu kau bagi semuanya kepada penciptamu.
Kadang jika aku memiliki banyak waktu luang dirumah, aku berusaha membantumu tetapi jawabanmu selalu sama "taruh saja, biar ibu yang mengerjakan kamu gak bisa melakaukannya" alih-alih kau tampak merendahkan kemampuanku tapi pada dasarnya aku tau, kamu hanya ingin menyuruhku istirahat.
Aku ingin menatapmu dan berkata
Ibu adalah sebaik-baiknya wanita yang pernah aku kenal.
Tapi aku masih menjadi seburuk-buruknya anak yang bandel
Aku jahat , aku anak pembohong. Ibu masih mau menyayangi anak pembohong sepertiku?
Di saat aku jauh dari rumah, banyak hal yang aku lakukan tanpa sepengetahuan Ibu. Ada beberapa hal yang kutahu tak boleh aku langgar, namun tetap aku lakukan.Harus kuakui, ketika melakukannya, aku terhibur.
Bahkan ketika kamu menelponku bertanya sudah makan saat aku berada jauh darimu aku menjawab "Aku sudah makan kok" padahal waktu itu aku sedang serius menyelesaikan tugasku dan aku lupa tidak sempat makan sama sekali.
Bahkan ketika aku merasakan sakit dan kamu terlihat sangat mengkhawatirkan kondisiku sehingga kau mulai cerewet melarangku beraktifitas ini itu dengan tega aku berbohong kepadamu "aku sudah baik-baik saja"
Tapi, egoku melawan aku tak kuasa mengatak itu dihadapanmu. Aku tak mau membuatmu menangis karena aku untuk kesekian kalinya.
Ketika kamu terlelap tidur, aku sering menatap dan menciummu dan aku lihat wajahmu mulai menua. Mulai ada keriput disana, membuatku sadar ragamu tidak sekuat dulu. Aku pun pernah harus melihatmu terbaring di atas tempat tidur. Tapi kau malah tetap tersenyum dan menanyakan apa aku sudah makan.
(Bu, tenang! Aku sudah makan!)
Izinkan aku mengatakan sesuatu yang belum sempat kusampaikan langsung. Aku tidak tahu kapan kita akan berpisah. Ada saatnya, aku akan mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Atau mungkin saja kamu yang mengantarkanku. Apapun akhirnya, akan ada saat dimana kita berdua harus rela. Kapanpun itu, hanya Yang Allah yang tahu. Aku hanya ingin mengingat bahwa kita pasti kembali bertemu.
Terima kasih sudah memutuskan untuk mempertahankanku 9 bulan berada di rahimmu.
Terima kasih sudah memperkenalkanku pada dunia.
Terima kasih sudah mengajarkanku apa arti perjuangan.
Maafkan anakmu ini: yang selalu membuatmu was-was, yang selalu bertindak semrawut,yang belum mampu membuatmu berhenti bekerja
Aku hanya bisa berharap untuk terus bisa memberikan yang lebih baik lagi untukmu.
Secerewet apa pun dirimu, Ibu tetap wanita nomor satu bagiku.
Aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi ibuku. Ibu pun tak tahu anak seperti apa yang akhirnya lahir dari rahimmu. Allah yang mempertemukan kita.
Aku bersyukur bisa Allah memberikan takdir untuk aku bertemu dengan seorang wanita bernama ibu Yayuk Widjaya.
Seorang wanita tangguh yang rela melepaskan semua impiannya demi mendidikku.
Terimakasih untuk semua hal yang telah ibu beri kepadaku selama 21 tahun ini...
Aku mencintaimu
Tolong, temani aku selalu untuk mencapai semuanya..

Komentar
Posting Komentar